Selasa, 21 Desember 2010


 Dan hanya dibutuhkan ucapan singkat dari seorang wanita; wanita itu, untuk membuyarkan seluruh keceriaan di hari ini dan mungkin hari-hari sebelum ini. Sebaris kata yang sangat menyinggung perasaan sampai ke lubuk jiwa. Menempati ruang kelam, membuat aku dan seluruh aku terpuruk, terjerembab. Aku egois, iya. Aku sensian, iya. Aku viusfhnbflgjorievtybjq;wilurjnwe 3]r]1weidK2390572’}($-YRH0I,DR2EU,102=,$}ueJ;ASM;IEYAOQWILDr.
Aku lupa lagi tata cara menulis yang baik dan benar. Yang runtut kata per kata, eksposisi kerangka, terarah dan memiliki akhir yang jelas seperti gambaran semula.
Setan. Aku bukan lagi belajar bahasa Indonesia dengan ejaan yang disempurnakan, kata-kata baku yang tak bernyawa tapi tersusun atas sistematika yang diagung-agungkan bagai dewa, bahasa formal kaku berlabel resmi tanpa hati.
Dan ku biarkan saja jemariku menari tanpa latihan gerak, berlari ke sana-sini sesuka hati. Aku percaya pada jariku. Ia terhubung secara kuat dengan hati dan pikiranku. Selama hati masih beremosi, jemariku akan terus berputar, menari, tertawa getir tanpa suara. menertawakan ketidakberdayaanku memberikan respon menantang pada hal kecil yang menusuk perlahan namun mengendap.dalam.dalam.
Ternyata susah, menjelmakan sebentuk rasa dengan sebaris kata yang mampu secara tepat mendefinisikannya. Susah mengartikan perasaan ini. Marah, kecewa, tersinggung, tersentil, ego, gengsi, sebuah perasaan rapuh yang dibungkus emosi. Mungkin saja saya marah. Kemungkinan besar saya kecewa. Saya rasa saya tersinggung dan tersentil. Ego saya sangat besar. Gengsi saya terbiasa dimanja. Pertanyaannya, perlukah aku mempertanyakan siapa yang salah?
Ketika aku berjalan dalam keterombang-ambingan perasaan. Ketika aku tetap tenang menjalani hari sesuka hati, tanpa berpikir panjang apa yang terselip di pikiran orang. Ketika aku ga suka peradilan tanpa fakta dan klarifikasi, namun tetap saja aku berjalan seenak jidat seakan membuktikan asumsi semua pikiran manusia-manusia sekeliling. Ketika seorang manusia sok tau datang, memberikan kesimpulan seakan dia mengetahui semua perkara, mengetahui semua alasan dibalik adanya semua hal kasat mata yang dia lihat dengan mata dan mata-matanya.
Cih!
Mungkin aku hanya sedang berada dalam tahap pendewasaan baru. Ujian yang menantangku untuk tetap berpikir jernih dan tidak tergesa-gesa mendefinisikan emosi. Menjalaninya dengan lapang dada, besar hati, seraya sedikit demi sedikit mereduksi ego dan gengsi. Kalau orang lain mampu melewatinya, kenapa aku tidak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar