Selasa, 20 September 2011

sekadar Penguatan :)

Tarraaa...
Dan saya sentuh kembali ruang ini, saat yang saya rasakan adalah kebuntuan tentang apa yang saya coba rasa-rasakan. Banyak sebenarnya yang harus saya lakukan. Akan tetapi, saat ini saya benar-benar butuh penguatan. Walau itu berarti saya harus berhenti sejenak menanggalkan segenap pemikiran ga tenang. Walau seakan saya membuang waku berharga saya di sini. Saya pertaruhkan demi secuil semangat yang saya kais-kais, motivasi dan deadline yang saya ungkit-ungkit, serta upaya pembantaian kemalasan yang tak habis-habis.

Mungkin saya hanyalah seorang manusia yang masih saja egois. Hanya mau melakukan segala sesuatunya jika dan hanya jika saya sedang ingin melakukannya. Seenaknya memutuskan mana yang penting untuk dilakukan sekarang, mana yang bisa dilakukan ntar-ntaran, mana yang bisa diberi label "kapan-kapan". Dan kebiasaan yang menjadi-jadi menjadi tambah kokoh saja dengan penyematan istilah "gak mood" di tiap kali dia beraksi. Haha, bisa-bisanya saya ngorek-ngorek endapan lumpur diri sendiri.

Well,, bukan maksud untuk sok-sokan buat autobiografi. Kurang kerjaan banget nampilin sisi kelam diri sendiri. Tapi, yang ingin saya coba beri stabilo warna terang di sini adalah, saya ingin menyentil ego, emosi, dan harga diri saya sendiri. Agar diri saya malu dengan apa yang tanpa sadar telah saya lewatkan, saya sia-siakan. Dan lagi-lagi lewat tulisan saya sendiri saya coba mengingatkan lagi dan lagi, betapa tidak bersyukurnya saya dengan seluruh yang telah dikaruniakan. Tidak menghargai begitu banyak hal yang telah ditukar untuk menjadikan saya sebagaimana saya sekarang. Juga begitu lemahnya ingatan saya sehingga saya harus disadarkan dan diingatkan akan pemahaman ini lagi lagi dan lagi.

Namun walau alasan keberadaan kumpulan kata-kata ini adalah untuk "nyindir" diri sendiri, saya sama sekali tiDak berniat untuk menjatuhkan semangat apalagi mental. Yah,, tiap hal pasti punya sisi yang tetap patut dipertimbangkan kan. Sehingga jejak keberadaannya bukan hanya sebatas cerita bahwa kebiasaan negatif itu pernah ada. Dan kesan yang ditimbulkannya hanyalah kesan negatif tentang kesuraman diri semata. Jadi,, sebelum saya "berupaya" menghapuskan negativitas diri secara permanen, saya mau menyaring hal positif yang ada sepaket bersamanya. Sekaligus menaikkan mental yang sebelumnya dijatuhkan dengan tuduhan bertubi-tubi terkait ketidakbecusan diri sendiri.

Satu hal yang membuat saya menaruh hormat terhadap kemalasan dan kesantaian ga kira-kira saya adalah, di balik racunnya yang ganas menyebar mematikan, terdapat sebentuk keoptimisan cerah mulus tak bernoda. Keyakinan bahwa saya bisa menyelesaikan segala sesuatunya pada saat saya mau untuk mengerjakannya. Dan sesederhana itu saja pemikiran itu. Optimis kalau saya bisa ketika saya mau.

Hahaa,, mungkin kenyataan yang ada tidak lah sesimple itu. Optimis mampu dan selesai perkara tutup kasus. Akan tetapi, ada hal yang belum bisa saya jelaskan dengan teori tentang kekuatan energi "cuma sekadar" keyakinan tak berdasar ini. Betapa saya benar-benar merasa berenergi dan no one can stop me ketika saya merasakannya secara nyata langsung. Dan betapa saya pada akhirnya benar-benar mampu menyelesaikan semuanya walau waktu yang ada telah tereduksi hampir habis oleh penundaan yang tidak kira-kira. Saya ingat, karena kekuatan optimisme ini pula lah, kemalasan itu bisa bertahan sekian lama. Karena pada akhirnya saya mampu untuk menyelesaikan semuanya. Yah, sombong dah... hahaa

Hmm...
Jadi hari ini saya belajar mendefinisikan pentingnya suatu hal berjudul keyakinan dan keoptimisan, bagaimana pun situasi membawa kita. Saya akan berlatih dengan giat mengendalikan kemalasan. Yah, walau mungkin latihan pelan-pelan. :p Dan saya akan berusaha semaksimal saya untuk dapat hidup sehidup-hidupnya. Karena saya tidak ingin menyesali hari yang telah saya lewatkan tanpa perjuangan. 
Semangat Santi....! \(^,^)/ 
#NoRegretLife!


<20September2011 / 23:30wita>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar