Minggu, 25 Maret 2012

Agama dan/ Tuhan


Satu tulisan (lagi) pemenuhan janji pada seorang kawan, atau guru mungkin bagi saya :)
Kali ini mengenai Agama dan Tuhan.


Dalam kehidupan kemasyarakatan normal, konsep keberagama dan keTuhanan yang kita kenal semenjak kecil adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Orang yang memiliki dan memeluk agamanya dengan taat dapat diartikan dengan memercayai keberadaan, juga mencintai Tuhan yang merupakan tokoh di balik keberadaan agama yang ia anut. Begitu pula sebaliknya. Seorang manusia di tengah masyarakat awam tidak akan disebut memiliki Tuhan apabila ia tidak memeluk suatu agama.

Namun selalu seperti itukah cara kerjanya? Untuk dapat memercayai keberadaan Tuhan, bersyukur atas segala hal, juga untuk dapat merasakan kehadiranNya dalam diri dan kehidupan kita, kita harus memeluk suatu agama? Dan apakah dengan kepemelukan agama dalam kehidupan kita, sudah dengan otomatis kita merasakan kehadiran Tuhan yang bertahta?

Hal asing yang dengan atau tanpa kita sadari memengaruhi diri dan kehidupan kita secara langsung maupun tidak langsung adalah sesuatu yang untuk lebih mudahnya, kita namakan Ia Tuhan, atau sang pencipta, atau setumpuk nama lain sesuai fungsi dan lokasi pemberian nama. Bagi orang yang sadar bahwa ada sesuatu di balik eksistensi dan ekosistem jadi ini, pertanyaan tentang keberadaan sang creator alam dan pertanyaan-pertanyaan turunan setelahnya telah berumur sepanjang keberadaan manusia itu sendiri. Dan umur lahirnya agama menyusul setelahnya.

Keberadaan agama dimaksudkan untuk mempermudah jalan kita memahami sesuatu tak kasat mata namun diyakini ada itu. Sesuatu yang ingin diyakini ada walau tanpa bukti, tanpa data. Karena ada beberapa bagian kosong yang belum dapat dijelaskan secara ilmiah keada ataupun ketiadaannya. Dan untuk mempermudah jalan kita yang meraba-raba dalam gulita, ada sesuatu yang dinamakan agama. Yang memberikan kita sedikit jejak dalam gelap, sekelumit petunjuk, juga sarana serta cara.

Setiap agama memiliki konsep dan gambaran Tuhannya sendiri-sendiri. Dan pendiskripsian golongan itu akhirnya melahirkan cara dan bentuk pemujaan yang berbeda. Cara yang berbeda untuk mencapai satu hal yang sama. Kalau boleh disebut sama. Karena perluasan konsep Tuhanku dan Tuhanmu yang melekat pada otak-otak sempit berkarat mampu menghancurkan tatanan apik yang ironisnya diciptakan oleh sesuatu yang kita percaya, puja, dan mati-matian bela. Kembali lagi pada bentuk yang berbeda untuk berinteraksi dengan Tuhan. Agama memberikan kita setumpuk cara. Seperti buku petunjuk yang kita butuhkan ketika kita sama sekali buta mengenai sesuatu hal asing dalam keseharian. Dan tentu saja keberadaan dan fungsi dari buku petunjuk itu sifatnya opsional. Orang dapat memilih untuk meletakkannya jika yakin dapat mengenal, menyentuh, dan memahami hal tersebut tanpa membaca petunjuknya.

Agama dan Tuhan adalah dua hal berbeda yang tidak dapat dilepaskan keterkaitannya. Namun kita tidak diharuskan untuk memaksakan diri berkutat pada sesuatu yang masih kita pertanyakan keabsahannya. Ada hal yang belum akan menyentuh seluruh diri dan kesadaran. Tidak akan pernah mampu kita sentuh, kita terima. Jika tidak diawali dengan percaya dan yakin, bahwa apa yang kita pegang itu kebenaran, yang keberadaannya penting untuk diri kita. Bukanlah sesuatu yang salah jika memilih Tuhan dan agama, atau salah satunya, atau tidak keduanya. Bagaimana kita bisa menuding sesuatu itu salah ketika tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar tahu bagaimanakah bentuk kebenaran absolut itu? Mengutip kata-kata ayah yang paling saya hormati, kita semua itu sama-sama berada dalam hutan gelap dan berusaha untuk menemukan cahaya. Alangkah sok tahunya jika kita mengatakan jalan yang kita tempuh benar dan gerombolan yang mengambil jalan lain salah. Karena belum tentu kitalah yang akan menemukan cahaya itu. Kita semua belum tahu siapa yang benar siapa yang salah. Siapa tahu jalan-jalan itu sama-sama salah, atau sama-sama berujung pada cahaya yang dituju. Well,, keyakinan itu hal dasar yang berasal dari lubuk hati kita. Bukan dari garis keturunan, bukan dari keseragaman pandangan di luar, bukan pula dari aturan. Selama tidak saling mengganggu, saya pribadi rasa si, urusanku urusanku, urusanmu urusanmu. :p


<25Maret2012/23:58wita>

1 komentar:

  1. agama itu sarana, input,
    dan yang penting itu outputnya, akhlak terhadap manusia, alam dan Tuhan.

    BalasHapus