Senin, 19 Maret 2012

Bali, Nyepi kali ini...

Jadi seperti inilah Bali dari kacamata seseorang berdarah murni Bali, namun asing dan sama sekali belum mengenal seperti apa sebenarnya tanah leluhur saya yang katanya luar biasa ini. Saya hanya mengenal tanah ini sebatas cerita orang tua dan keluarga, serta coba berkenalan singkat dengan kunjungan di kala libur sekolah. Dan sampai dengan usia saya yang kepala dua berekor cabang ini mungkin satu-satunya pengetahuan penuh saya tentang Bali hanyalah sebentuk kesadaran utuh bahwa saya-masih-buta. Saya masih berjalan meraba-raba mencoba untuk sedikit banyak tahu tentang tanah yang juga adalah cetakan sejarah diri saya.

Bali yang sakral. Bali yang kental budaya. Bali yang menjunjung tinggi adat istiadat. Bali yang penuh unsur magis. Bali yang indah. Bali yang tempat pemusatan agama yang saya anut (katanya). 

Well, sejujurnya memang terasa nuansa yang berbeda begitu menginjakkan kaki di pulau kecil ini. Namun, saya pribadi belum mengetahui apakah hal ini spesial atau hanyalah perasaan yang umum dirasakan orang-orang luar yang mengetuk pintu masuk ke pulau ini. Tapi di luar apa yang mungkin sebenarnya terjadi, yang saya rasa penting untuk diri saya adalah perasaan yang saya rasakan senyata-nyatanya. Nuansa yang berbeda, serta kenyamanan yang jika saya ingat-ingat lagi tidak asing bagi diri saya. Perasaan pulang yang bukan menggebu-gebu namun tenang dan damai. Kedamaian yang selalu sama di tiap kali kapal ferry yang saya tumpangi mulai merapat, dan lalu bus membawa saya menyusuri jalan-jalan masuk dari Gilimanuk menuju kota. Semacam perasaan rindu saya rasa. Walau saya tak habis pikir, apa benar kita bisa merasakan rindu pada sesuatu yang tidak terlalu kita kenal?

Baru kali ini saya ada di Bali menjelang dan pada saat Hari Raya Nyepi (nanti). Kalau sedikit ditanyakan lebih kritis, mungkin saya belum mampu menjawab dengan pasti kenapa saya berada di sini. Mungkin untuk merayakan Nyepi, mungkin untuk menengok adik satu-satunya, mungkin untuk mengunjungi keluarga besar, mungkin untuk jalan-jalan. Mungkin semuanya benar, atau mungkin semuanya bukan jawaban yang sebenarnya saya rasakan. Yang jelas saya berada di sini sekarang.

Bali masih tetap sama seperti Bali yang saya kunjungi pertengahan tahun lalu. Dan saya rasa perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri saya masih belum dapat mengimbangi kokohnya Bali dalam stagnasi stabil semenjak saya mengenalnya sampai saat ini. Banyak hal yang tetap belum saya mengerti. Banyak hal yang ingin saya pelajari. Bukan dengan keharusan dan pemaksaan. Bukan dengan kalimat perintah dan suruhan. Saya cuma ingin belajar tentang diri saya lebih dari apapun. Dan ranting pohon diri saya berawal dari akar leluhur yang menancap kuat pada tanah ini. Tanah misterius yang tersenyum aneh melihat generasi yang ditopangnya dengan tidak sopannya ada tanpa mengucap salam dan melestarikannya.


<19Maret2012/22:23>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar