Jumat, 30 November 2012

(me)nyala(kan) korek api di gudang

Bahkan ketika sedang berdoa saya masih saja bertikai dengan pikiran saya. Bukannya khusuk beribadah, tapi malah ribut berdiskusi tentang doa itu sendiri. Bagaimana saya mencoba menggali arti di tiap rangkaian mantra yang saya ucapkan. Ungkapan terima kasih yang diiringi sederetan "semoga" yang kadang-kadang saya rasakan cuma menjadi untaian doa rutin. Sebuah pamrih. Bahwa saya berdoa hanya karena saya mengharapkan imbalan dari ritual doa yang saya lakukan.  
Suara-suara tidak tenang terkadang mengusik ritual saya. Terutama pada bagian di mana saya telah selesai mengucapkan mantra dan mulai "mengucapkan doa"...

Ini tulisan mengendap sekian lama dalam draft. Menunggu waktu yang tepat untuk terselesaikan dan terpublishkan dengan dagu terangkat dada terbusung. Namun urung. Ketimbang terbuang, saya satukan saja bersama energi pembersihan yang masih tersisa. Publikasikan! Dengan sisa emosi yang masih nyisa, dengan pertanyaan yang masih tidak jau berbeda, dengan tanpa reaksi berlebihan atas sesuatu yang saya yakin seyakinyakinnya bahwa orang itu masih adalah saya.


<1desember2012_02:28>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar