Kamis, 18 April 2013

Setapak Ini

Selogis-logisnya pemikiran, ada saatnya perasaan yang mengambil alih diri serta kesadaran. Sebenarnya ini suatu hal yang wajar kok. Jika saja saya tidak terlalu senewen karena mengalaminya. Karena saya benci berada dalam suatu kondisi yang mengharuskan saya merasa sangat sangat bersalah. Ntah dosa ntah apa itu masuk neraka. Pengetahuan saya masih cetek soal dunia sana. Yang saya pahami dengan benar, ada sesuatu dalam diri saya yang saya langgar. Sehingga saya merasa demikian sakit ketika mengingatnya. Akan tetapi perlu digarisbawahi, merasa bersalah dengan menyesal itu tidak plek-plek sama. Saya belum dapat memutuskan apakah saya merasa menyesal atau tidak.

Damn! Sakit sekali perasaan ini ternyata. Ngilu terasa ketika tanpa sengaja terkilas kembali gambaran itu peristiwa. Dan sulit menggambarkannya secara mendetail, sebenarnya apa yang saya pribadi rasa? Nilai apa yang saya langgar dalam diri saya? Sehingga saya sedemikian ini merasa gamang melangkah.

Ada cetakan luka yang sebenarnya bukan milik saya. Darah yang bukanlah darah saya. Tapi saya sadar, pisau itu ada di tangan kanan saya. Dan darah segar itu menempel di tangan saya. Cuk! Salah didikan sepertinya ini. Salah pilih nilai untuk dijadikan pondasi. Salah pilih guru untuk digugu. Salah baca buku!

Dalam bentukan diri yang sudah sampai sejauh ini prosesnya, saya tidak bisa serta merta bilang saya tidak suka diri saya begini, saya ingin diri saya begitu. haha, mungkin motivator-motivator itu bisa memberikan kalimat-kalimat pembangkit semangat seraya berkata BERUBAH segampang Kotaro Minami berubah jadi ksatria baja hitam. Dan saya pun mengangguk-angguk nurut sampai sesi indoktrinasi basi itu berakhir. Lalu ngah ngoh beberapa saat, dan kembali ke alur saya sebelumnya. haha. Satu yang diam tersenyum menunggu mungkin cuma si waktu. Mengangguk memberi kesempatan dan perijinan untuk merasakan ini rasa se-pol-polnya tanpa kepedulian untuk mereduksi barang sedikit. Dongkol tapi apa mau kata? Mau dirasakan dengan mengeluh, mencaci, memaki, atau legowo menerima?

Berdasar pengalaman, sampai perban korban dilepas, baru saya merasa tuntas. Tapi tiap puzzle itu unik. Dan saya bukan Jayabaya. Juga ini bukan karya ilmiah yang harus ditutup dengan konklusi solutif. Haha sabar San. Bahkan pada saat seperti ini bagian kiri ini kepala juga tertawa. Hasem.


<19 April 2013/02:39>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar