dibuat untuk mengikuti lomba menulis essay pada Lustrum IX Teknik Kimia Undip
Semenjak dua tahun lalu, teknik kimia Undip telah menjadi rumah baru bagi mahasiswa 2008, termasuk saya di dalamnya. Akhir Agustus 2008 merupakan momentum perayaan selamat datang bagi para calon mahasiswa baru teknik kimia yang menjadi awal mula terbentuknya memori baru tentang kehidupan di masa kuliah. Masa kuliah yang kata orang merupakan masa pendewasaan yang benar-benar membentuk karakter dan mental serta kesiapan menghadapi dunia kerja yang tidak mudah.
Kesan terhadap jurusan yang saya pilih ini mulai tergambar saat dengan ramahnya kakak angkatan menyambut dan membimbing saya untuk mulai mengenal rumah baru saya yang masih terasa asing ini. Dengan slogan 5S yang adalah senyum, salam, sapa, sopan, dan santun saya dan para mahasiswa baru lainnya diajarkan untuk menjadi tamu yang baik di rumah teknik kimia. Dan proses mulai mengenal satu keluarga 2008 dimulai dari PMB Jurusan ini.
Penerimaan yang begitu ramah dan tangan terbukanya di awal penyambutan ternyata tidak dapat membuat kami semua menggampangkan proses adaptasi di teknik kimia. Seperti jurusan lain yang berembel-embel “teknik”, teknik kimia memiliki tradisi dan caranya sendiri dalam menyambut mahasiswa barunya. Tradisi yang belakangan saya pahami bahwa inilah yang membentuk karakter dan mental tanpa disadari. Hari-hari yang berat namun mau tak mau harus dilakoni karena sekali lagi ditegaskan, kami semua adalah tamu di sini. Penghuni baru yang tidak akan mengerti teknik kimia sebelum menjalani masa pengenalan dan menjalankan semua tradisi yang ada.
Masa awal perkuliahan ditandai dengan pembiasaan untuk tidur jauh larut malam untuk menyelesaikan tugas-tugas dan laporan. Awal yang berat dan membutuhkan fisik serta mental yang kuat. Namun, hal-hal semacam inilah yang membuat saya tersenyum simpul mengenang betapa culun dan lugunya dahulu ketika awal memproklamirkan diri menjadi seorang mahasiswa. Betapa kami semua beranggapan bahwa menjadi seorang mahasiswa adalah sesuatu yang keren, dan selesai begitu saja. Sama sekali tidak memperhitungkan besarnya kewajiban dan tanggung jawab yang ikut terseret di dalamnya. Polos, naïf, namun selalu membuat saya tersenyum kecil saat berusaha me-replay semua moment itu dalam otak kecil saya.
Sederhananya pemikiran membuat segala yang terjadi menjadi lebih indah. Alih-alih memusingkan persoalan orang dewasa dan dunia baru selepas kuliah, kami lebih tertarik mengukir sejarah hidup kami dengan menghabiskan waktu –yang sempit setelah direduksi oleh tugas dan laporan- untuk membangun kekeluargaan yang kuat dengan cara…bermain. Saat-saat yang benar-benar memberikan dampak positif, bahkan ketika semuanya tertinggal menjadi sebentuk memori. Memori yang menjelma virus yang melekat di otak, di hati, dan sampai detik ini belum menunjukkan tanda-tanda akan pergi.
Di sisi lain, tanggung jawab yang pada awalnya merupakan keharusan dalam melakukan tugas-tugas yang diwajibkan oleh kakak-kakak angkatan ternyata memupuk kekompakan keluarga kami; Eksis 2008. Hampir setiap hari berkumpul membahas ini-itu, begadang bersama menyelesaikan tugas yang diamanahkan, bersatu-padu mencanangkan acara kami. Capek bersama, susah bersama, tertawa bersama ketika acara yang kami adakan dapat dikategorikan sukses. Masa-masa penuh perjuangan yang indah dan layak dikenang. Sampai akhirnya kami semua dikukuhkan menjadi sebuah angkatan. 20 Desember 2008 pukul 17.20 di bawah guyuran hujan di depan semua angkatan. Momen yang cetakan kejadiannya masih jelas tergambar di kepala, dinginnya hujan masih jelas terasa, dan suka citanya tetap menyala di hati kami semua.
Di dalam kampus teknik kimia terangkum semua memori indah walau dibungkus oleh perkuliahannya yang cukup susah. Dan tantangan sebenarnya baru saja hendak dimulai ketika kami semua telah resmi menyandang nama Angkatan 2008. Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia membutuhkan kinerja dan kontribusi kami, belum praktikum yang jalan terus melaju tanpa hambatan dengan laporan yang tidak kelar-kelar, mata kuliah yang makin lama makin susah, dan tantangan untuk tetap menjadi angkatan yang kokoh dan tidak terpecah belah seusai dilepas untuk bisa berdiri sendiri. Dan semua kesan terangkum dalam sebuah cerita berlabelkan “di kampus teknik kimia”.
Banyak kata yang dapat tertulis di bawah bendera teknik kimia. Sebuah cerita panjang yang hingga kini belum selesai. Kisah tentang bagaimana dan sejauh mana sebuah kampus berperan dalam menjadi bagian dari perjalanan kehidupan menuju pendewasaan. Dan sudah seharusnyalah dunia kampus seisinya mengambil peran dengan porsi yang cukup besar mengingat dimulai dari kampus kita mengintip celah di jendela menuju masa depan yang sebenarnya.
Teknik kimia sendiri memiliki kapabilitas untuk menggodok mahasiswa yang ada di dalamnya menjadi mahasiswa yang matang, berkualitas, dan siap menerima tantangan keadaan di luar sana selepas wisuda. Hal ini dapat dengan jelas dilihat, bahkan untuk kami yang belum lulus sekalipun. Perkuliahan yang pontang-panting dengan merelakan keringat dan mau tak mau senantiasa mengobarkan semangat, praktikum plus laporan-laporan yang mengajarkan kami tentang bagaimana mengaplikasikan teori dalam buku menjadi sebentuk hasil nyata yang kasat mata, sampai kegiatan organisasi di HMTK yang cukup menyita waktu namun mampu sedikit demi sedikit membentuk karakter dan mengembangkan soft skill yang sangat berguna ke depannya.
Secara garis besar, porsi suka vs duka di kampus teknik kimia sebanding. Duka atau lebih tepatnya perjuangan di teknik kimia adalah sesuatu yang mutlak dan merupakan suatu keharusan untuk dapat beradaptasi di sini. Dan saya pribadi yang notabenenya bukan seseorang yang rajin, dipaksa untuk melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin hanya untuk sekedar menjadi “lebih dari rata-rata” di teknik kimia. Perjuangan yang dalam cetak biru sejarah perjuangan saya sebelumnya adalah perjuangan terjauh dengan mengerahkan seluruh daya yang saya punya. Sebuah medan pertempuran yang hanya dapat dimenangkan jika pejuangnya memiliki tekad dan semangat yang luar biasa konsistensinya. Bagaimana tidak, tetap konsisten menimba ilmu di tengah kesibukan laporan dan kegiatan lain yang menyita waktu tentu saja tidak dapat dianggap remeh dan dipandang sebelah mata.
Namun seperti halnya dua sisi dalam mata uang, teknik kimia sendiri memiliki andil penting dalam pengembangan diri kami. Di balik perjuangan yang seakan tak habisnya, diri kami dibiasakan untuk selalu mencoba sampai limit ketahanan fisik dan mental. Di mana tubuh sudah sangat lelah, mata setengah-setengah, mood dan semangat berjuang raib ntah ke mana, namun kewajiban belum usai terlaksana. Selain itu, atmosfer kekeluargaan teknik kimia –yang mungkin dampak positif pendadaran semasa mahasiswa baru- yang kuat memberikan rasa nyaman dan memancarkan aura positif sehingga semua beban seakan hilang ketika bercengkrama dan tertawa bersama teman-teman. Dan tidak akan cukup barisan kata yang tersedia di kamus kepala saya mengisahkan tentang betapa beruntungnya saya memiliki keluarga seperti yang saya miliki di sini; di kampus teknik kimia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar