Amarahku bukanlah amarahmu apalagi amarah mereka. Amarahku hanyalah sebuah permainan emosi personal versus situasi semata. Dan tawa mereka sama sekali bukan tawaku ntah tawamu. Pekikannya cuma bisa menggemakan sunyi di jiwa.menulikan telinga.
Bisa saja saya bilang saya baik-baik saja tenang saja. Bisa juga saya berkata saya muak dengan semuanya. Lebih bisa lagi saya tunjuk satu persatu menyalahkan seluruh yang terkait. Bisa pula saya banting-banting teriak-teriak jerit-jerit. Namun saya juga bisa memilih bersembunyi dalam diam.tanpa sama sekali mengiyakan salah satu pilihan.
Cih!
Dalam kebekuan yang menjemukan, saya temukan sedikit pencerahan. Sebuah kesadaran. Bahwa adalah aku yang menentukan seperti apa hidupku. Dan hanyalah aku yang menjadi sebenar-benarnya pahlawan yang dapat aku andalkan. Juga adalah aku segala sumber kesalahan, sumber kealpaan, dan satu-satunya sasaran pertanggungjawaban.
Ego. Mungkin jawaban, mungkin target penyalahan, mungkin alibi, mungkin tameng. Tapi kompilasi ego+sensitifitas+self esteem rendah memang benar-benar mahadahsyat. Saya standing ovation menyaksikannya. Lalu diam tak bergeming sesudahnya. Ga bisa ngomong apa-apa.
Film di kepala sepertinya telah usai. Tapi hilangkah bayangan di retina setelahnya? Jejak-jejak masih hangat, bau tanah sehabis hujan masih tercium, soundtrack hari ini masih mengalun. Dan tidak semudah tersenyum upaya membakar memori lengkap bersama kesan serta asumsi. Saya benar-benar sangsi.
_first stopped_
<30Jan2011/17.25>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar