Rabu, 02 Februari 2011

Menerima dan Memaknai G 30 S sebagai Sejarah Bangsa Indonesia


Memaknai  peristiwa yang merupakan bagian dari sejarah kelam bangsa ini tidaklah mudah, mengingat pelik dan beragamnya versi maupun teori konspirasi mengenai keberadaannya. G 30 S yang umumnya disebut sebagai puncaknya kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) menuai banyak pemahaman tak seragam akibat ketidakjelasan runtutan peristiwa yang sebenarnya terjadi kala itu. Versi pertama, merupakan pemahaman yang telah dicekokkan selama bertahun-tahun di kepala seluruh rakyat Indonesia. Sebuah kisah tentang upaya pemberontakan yang didalangi oleh sebuah partai bergariskan Komunis yang berujung pada pembantaian 6 Jenderal dan 1 Perwira Tinggi Angkatan Darat yang menghalangi jalannya. Kisah ditutup dengan segmen kepahlawanan seorang Jenderal menumpas dalang kebiadaban tersebut dan kemudian berada di puncak pimpinan Negara sebagai bayaran atas jasa-jasanya. Lalu tersebutlah versi kedua. Versi yang lahir mengiringi kelahiran normal versi pertama namun mengendap dalam bungkam sekian lama. Baru terbuka dan mulai membuka mata masyarakat awam setelah Jenderal tersebut akhirnya lengser dari tampuk pemerintahan. Versi yang bercerita dari kaca mata berbeda memandang peristiwa dibalik gugurnya 7 orang penting Angkatan Darat di malam menjelang 1 Oktober 1965 tersebut. Konspirasi yang berhembus karena kejanggalan sejarah yang ditulis, keterangan yang simpang siur dari berbagai pihak yang secara langsung terlibat, serta upaya menutup-nutupi kebenaran yang mulai tersingkap. Konspirasi yang secara pribadi saya nilai memiliki beberapa potongan jigsaw puzzle yang tepat untuk melengkapi bagian-bagian kosong yang tertinggal dari sejarah versi pertama.
            Peristiwa berlabelkan G30S/PKI 45 tahun silam menjadi catatan hitam sejarah bangsa Indonesia. Sejarah yang ditulis sedemikian kelamnya menceritakan buasnya PKI kala itu. PKI digambarkan sebagai pihak yang mampu menghalalkan segala cara demi terwujudnya visi dan tersingkirnya semua penghalang. Gugurnya 7 orang penting yang seusai peristiwa berdarah itu disebut sebagai Pahlawan Revolusi tersebut juga merupakan pengimplementasian dari kekejaman PKI sebagai upaya penyingkiran musuh-musuh politiknya. Begitulah jalan cerita sejarah yang tertulis di buku pelajaran sejarah SMP selama sekian lama, seumur pembuat sejarah tersebut memerintah. Namun, sebagai seorang pemudi masa kini yang sedikit banyak mengetahui peliknya sejarah dari referensi yang tidak seberapa lengkap dengan semua kontroversi yang ada, saya berusaha untuk bijak dan seadil-adilnya memandang setiap detail bagian sejarah bangsa kita ini.
            Peristiwa berdarah 45 tahun lalu menyisakan luka bagi para pemeran maupun anggota keluarganya yang masih ada hingga sekarang. Kebelumjelasan mengenai siapa tersangka siapa korban dalam peristiwa tersebut masih menjadi polemik yang hangat dalam sanubari mereka. Terlebih mereka yang merasa segala yang diterima pasca peristiwa puncak 30 September 1965 tidak adil dan bukan seperti itu seharusnya. Dan demi orang-orang yang sampai saat ini mungkin tidak didengar suaranya; orang-orang yang sangat dimungkinkan adalah para korban yang sesungguhnya, rangkaian kata berdasar yang tidak asal karang ini mencoba untuk berbicara tanpa suara. Mencoba untuk bercerita, menganalisa, membubuhkan simpati, menaruh empati, memberikan peran yang tepat kepada orang yang tepat, serta mengambil hikmah dari semua yang tidak dapat diubah karena kita hanyalah merefleksi dari segala yang telah lewat.
              Sejarah dimulai dengan keberadaan 2 kekuasaan besar di bawah kepresidenan Soekarno. TNI dan PKI. 2 kekuatan yang bersaing demi keunggulan masing-masing. Saling menjatuhkan, saling berebut posisi, saling menebar pengaruh. Segala dilakukan untuk menjadi lebih dari yang lain. Hal ini berlangsung sekian lama sampai isu dewan jenderal berhembus. Dewan jenderal merupakan isu yang beredar, yang memberikan kabar bahwa para petinggi AD akan melakukan kudeta terhadap kepemimpinan Soekarno. PKI yang merasa posisinya terancam apabila Soekarno tergeser segera melakukan tindakan untuk mencegah dewan jenderal ini beraksi. Salah satunya adalah mempengaruhi rakyat untuk bersama-sama menggagalkan aksi dewan jenderal sebelum terlambat. Karena pemberontakan akan menimbulkan masalah baru di tengah masyarakat, terutama ekonomi. Dan puncaknya pada 30 September 1965, 7 orang petinggi AD yang diduga para anggota dewan jenderal diculik dan dibunuh.






           









7 Jendral yang menjadi target operasi PKI :
Jendral TNI Anumerta Ahmad Yani, Letjen TNI Anumerta S Parman, Letjen TNI Anumerta MT Haryono, Mayjen TNI Anumerta DI Panjaitan, Letjen TNI Anumerta Suprapto, Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo,  Kapten Czi Anumerta Pierre Tendean

            Sejarah yang kita semua tahu sejak SMP. Kebiadaban PKI dan antek-antek pendukungnya menimbulkan luka di hati para korban. Kemudian, segera setelahnya, dengan sangat luar biasa seluruh tersangka peristiwa yang dikenal sebagai Peristiwa Lubang Buaya, karena di sanalah para pembunuh membuang jenazah korbannya, tersebut tertangkap. Sungguh besar jasa Mayjen Soeharto dalam mengungkap dalang dibalik peristiwa berdarah ini. Namun dari sinilah kontroversi terbentuk. Soeharto di satu sisi dipandang sebagai pahlawan bangsa dalam menumpas kejahatan, di sisi lain dianggap sebagai orang yang sebenarnya mengetahui semua rencana PKI sebelumnya namun tidak melakukan apa-apa untuk mencegahnya. Atau dengan lain istilah, politiklah yang berbicara. Kepentingan pribadi yang pada akhirnya cepat lambat membawanya ke kursi nomor 1 di negeri ini. Konspirasi yang senantiasa membayangi realita yang sesungguhnya dari sejarah bangsa ini. Sampai Mayjen ini duduk di kursi tertinggi, selama 32 tahun masa kepemimpinannya, sampai ia digulingkan, dan masih berhembus hingga beliau dimakamkan. Konspirasi yang tumbuh subur oleh belum terpecahkannya teka-teki dan berbagai pertanyaan atas kenyataan yang sedikit janggal. Belum termasuk surat perintah yang dikeluarkan Presiden Soekarno yang dijadikan dasar semua tindakan yang dilakukan Soeharto. Surat yang sampai sekarang bukti otentik keberadaannya yang asli tidak diketahui siapapun.


Surat perintah yang biasa kita lihat di buku pelajaran SMP. Keasliannya masih merupakan tanda tanya.
           
Sekarang, setelah lewat 45 tahun dari peristiwa yang membekas, yang dapat disebut sebagai luka dalam perjalanan hikayat bangsa Indonesia, hal paling bijak pertama yang dapat kita lakukan sebagai langkah nyata bahwa kita dapat mengambil semua hikmah dari peristiwa itu adalah menerimanya sebagai bagian dari sejarah kita. Sejarah yang sampai saat ini masih terasa kelam dan belum menunjukkan tanda-tanda titik terang karena satu-satunya orang yang mengetahui kebenaran serta runtutan cerita sesungguhnya dari peristiwa tersebut sudah tidak dapat kita tanyai lagi.
Ketimbang memikirkan dan mereka-reka ulang dalam kepala apa yang sesungguhnya terjadi kala itu, saya rasa akan lebih bijaksana jika kita memaknai peristiwa tersebut sebagai sebuah ujian bagi ketahanan bangsa. Di mana ketika ideologi yang menjadi dasar adanya Indonesia terombang-ambing, banyak pihak yang tertarik untuk membuat bangsa kita bimbang, oleng, rapuh, dan untuk selanjutnya mengatasnamakan kepentingan pribadi untuk menungganginya. Saya tidak serta merta mengatkan bahwa ideologi komunis itu buruk. Hanya saja, sebuah ideologi yang baik harus dapat menjadi ideologi yang sesuai untuk kaum yang berada di atasnya. Dan paham komunis tidak cocok untuk masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman tingkat tinggi. Pun liberal. Ideologi pancasila yang telah tercetuskan sebagai dasar Negara kita merupakan paham yang paling tepat mengatasi masyarakat Indonesia yang multikultural.
Soeharto sendiri, yang memiliki peran berimbang sebagai tokoh jahat maupun berjasa, tetap memiliki andil besar dalam perjalanan Indonesia. Mungkin cara yang ia pilih untuk merealisasikan visinya bukan termasuk cara yang kita kategorikan sebagai cara yang benar, namun keberadaannya yang membawa kemajuan bagi bangsa ini patut kita apresiasi. Jabatan presiden selama 32 tahun sebagai jerih payahnya merekayasa peristiwa disandangnya dengan memberikan yang terbaik untuk kemajuan bangsa. Mencoba memandang dengan adil dan seimbang antara kesalahan dengan hal positif yang ia lakukan.
Dan kita tidak dapat lagi memandang sebelah mata tersangka dan keluarganya setelah mengetahui peliknya peristiwa dan bumbu politik yang mewarnainya. Tidaklah bijak apabila kita hanya menilai sesuatu secara hitam-putih saja. Karena hal yang terkandung di dalamnya tidaklah sesederhana itu. Mungkin saja, orang-orang yang selama ini menderita karena pelabelan “tersangka revolusi” adalah orang-orang yang sebenarnya berjasa pada masanya.
Yang terasa manfaatnya adalah apa yang dapat kita; generasi muda, perbuat demi sedikit banyak membantu bangsa kita yang hingga kini masih terseok-seok melangkah. Bagaimana kita tanpa saling tuding, merujuk pada diri sendiri, apa yang sudah kita sumbangkan untuk bangsa ini. Bersatu, bukan justru terpecah belah oleh rasa kedaerahan maupun golongan yang kadaluarsa. Melakukan sesuatu, yang sekecil apapun jika kita melakukannya dengan tulus, merupakan hadiah terindah untuk bangsa ini. Menyumbangkan prestasi kita, bukan darah, huru-hara, pertikaian di mana-mana.
Dengan sejenak merenung dan memaknai kembali perjuangan para pahlawan dan mereka yang sampai akhir hayatnya jauh dari sebutan pahlawan padahal mereka telah berjuang hingga penghabisan, lebih dewasalah dalam memandang setiap persoalan, lebih bijak dalam mengambil keputusan, lebih hati-hati dalam bertindak. Namun senantiasa berjuang dan berkarya penuh makna. Demi bangsa kita, demi pengobanan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar