Jumat, 07 Januari 2011

image.citra.otentitas diri.realita

Well,,
terkadang kita hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapi opini publik yang ketika kita sadar ternyata telah mencapai stadium 2. Ada sedikit rasa bangga mengetahui begitu banyak orang yang peduli dengan setiap langkah yang kita pilih, dan tiap bulir kehidupan yang kita jalani. Sebegitu menariknya kah diri ini?hahaa... Namun, perlu sedikit diwaspadai juga jika yang dikasak-kusukkan pada akhirnya menyenggol citra yang dapat mengakibatkan sedikit pencemaran nama baik. Ehem,,harga diri terusik,ego terpanggil.

Dan aku pribadi tidak mampu mendayaupayakan rangkaian aksara untuk membuat keadaan berubah. Teori dan wacana tidak berlaku di sini. Namun, bukannya aku ga bisa melakukan apa-apa sebenarnya. Masalahnya, aku tidak mengerti dengan benar apa masalah sebenarnya. Ada yang tidak beres. Begitu instingku berbicara. Tapi apa yang tidak beres itu sebenarnya? Tidak mungkin juga begitu banyak kepala berpikiran hal yang sama dan aku masih beranggapan itu hanya persepsi dan asumsi mereka saja.

Hmm...
Sepertinya memang ada yang harus sedikit dibenahi di sini. Internalisasi. Akan tetapi, introspeksi bukan semerta-merta bermakna mengganti seluruh kesatuan hanya karena ada sedikit keambiguan di salah satu sudutnya. Dan bukan pula lantas mengiyakan begitu saja segala yang ada di mata orang. Sebuah renungan ke dalam mencoba melihat 'aku' dari luar dan mengevaluasi apa yang kiranya menggerakkan pemikiran orang-orang untuk singgah ke sini dan mengerutkan dahi usai memandang.

Mungkin saja aku memang berlebihan. Menggelorakan setiap emosi(baca:rasa) setiap kali emosi itu hadir di diri ini. Dan tidak semua orang dapat melihat ekspresi ini dengan bijak. Hey, aku tidak sedang berada dalam proses investigasi menyelidiki siapa pihak yang salah kali ini. Tapi mungkin untuk kepuasan diri sendiri aku mau menulis sesuatu dari sudut pandang aku sebagai pelaku. Yah,,seorang sahabat pernah berkata bahwa aku memang terlalu berlebihan dalam mengekspresikan emosi-emosi (khususnya emosi positif). Hal itu kira-kira 4 tahun yang lalu. Sekarang, kejadian serupa dengan orang-orang yang berbeda.Parah juga sepertinya aku. :)

Dan tidak cuma itu. Hmm...juga soal hubungan antar manusia, lawan jenis khususnya. Bukanlah sebuah prestasi yang bisa dibanggakan dapat dihubung-hubungkan dengan beberapa orang sekaligus dalam suatu waktu. Dan bukan pencapaian yang diharapkan pula. Ehem,,sekadar penjelasan dari versi aku saja,,atau mau disebut sebagai alibi juga terserah. 
Aku sama sekali tidak bermaksud apa itu istilahnya, tebar pesona pada semua lelaki. Ti.dak. Hufh...memang ada kalanya kita harus mengkaji lebih dahulu apapun yang ingin kita perbuat, apalagi untuk hal yang berhubungan langsung dengan kepentingan manusia lain. Salah-salah apa yang kita maksud berbeda dengan yang ditangkap orang. Aku cuma sayang pada semua orang,  terutama manusia-manusia cecunguk yang aku patrikan namanya sebagai sahabat. Dan atas dasar perkawanan itu pula, aku dengan santainya menampilkan wajahku apa adanya. Lengkap dengan semua perhatian dan ketulusanku berbagi pada mereka. Pada kalian semua. Dan pada orang-orang yang aku anggap kawan dan saudara itu pula aku dapat dengan tidak tahu malunya meminta bantuan ataupun pertolongan tanpa sama sekali rasa sungkan.

Harga sebuah ketulusan...

Yah mungkin situasi kedua berhubungan erat dengan sifat kronis pertama; ber.le.bi.han.
Dengan bersusah payah, kita mampu mengendalikan diri kita. Tapi kita tidak dapat seenaknya mengatur apa yang dipikirkan orang lain, apa yang dirasakan orang lain. Seyogyanyalah, niat sederhana yang mulia tidak dibungkus secara berlebihan sehingga membiaskan arti yang ingin ditransfer. Tidak sepatutnya juga aku dengan seenaknya -karena menganggap 'korban-korbanku' orang terdekat- memposisikan diriku dalam kehidupan mereka seenak jidat. Sehingga bukan salah orang-orang yang memandang juga.

Jadi,,inti dan hasil akhirnya?
Perlukah klarifikasi pada massa?--tidak butuh.ga bakal ngasi perubahan signifikan.yakin.
Perlukah introspeksi?--jelas.dari tadi kita ngevaluasi diri tho..
Haruskah berubah?
--Hmm...
Agak susah njawabnya.
Aku butuh alasan yang benar-benar kuat untuk dapat mengubah diriku dari aku yang sekarang.
Tulisan di atas cukup kuat ga ya....
Tapi aku bakal lebih memperhatikan kepentingan orang lain di luar diriku. Memastikan tidak akan ada yang terluka karena aku. 
Yah,memang citra diri yang positif itu penting. Tapi tidak sampai harus mengorbankan pondasi awal kan...
Aku yang egois,,aku yang banyak mau...
Hmm.... Sepertinya ada beberapa revisi diri yang menjadi PR.
Untuk dikerjakan nanti,, setelah ujian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar