Berbicara tentang manusia tidak dapat lepas dari wajah. Wajah dalam arti harfiah maupun wajah dalam arti turunan. Dan sebagai preambule saja, tulisan ini dibuat murni atas dasar persepsi pribadi. Sama sekali tidak ada maksud untuk sok berlagak ahli, menggurui, apalagi menghakimi.
Dari sudut pandang saya... Umm...saya bingung memposisikan diri sebagai apa. Sebagai generasi muda sepertinya terlalu general, saya tidak dapat menobatkan diri sebagai perwakilan pandangan generasi muda kebanyakan. Sebagai mahasiswa... Waah...mahasiswa jaman sekarang agak susah menebak jalan pikirannya. Osilasi tinggi. Amplitudonya terlalu besar. Dan saya yang mungkin agak keukeuh berada di simpangan saya tentu saja tidak dapat memberikan pandangan yang sama dengan mahasiswa yang ada di ujung sana. Ada baiknya saya memposisikan diri sebagai diri saya seutuhnya. Perspektif pribadi dari sepasang mata seorang manusia biasa yang mencoba untuk menuangkan kata-kata maya di kepala yang terlintas begitu saja seusai mengetikkan judul di atas.
Manusia dan Wajah.
Wajah manusia, atau wajah-wajah manusia? Perlu dicermati yang tertulis adalah kata "wajah", bukan "topeng". Dua kata yang memang memiliki persamaan, namun disertai kesenjangan konotasi yang cukup besar. Wajah terkesan lugas memberikan artian tampakan yang terlihat sebagaimana adanya memang ada. Namun istilah topeng selalu dikaitkan dengan mengada-adakan sebuah tampilan untuk menimbulkan kesan tertentu. Kesan yang diinginkan tentunya, karena topeng memang sengaja dipilih sesuai kemauan pemiliknya.
Sebenarnya pangkal yang kita bicarakan adalah mengenai 2 hal yang menjadi judul di tulisan ini. Manusia. Dan wajah. Di mana sebenarnya yang ingin saya paparkan adalah sebuah kerangka pikiran mengenai manusia. Sedikit ulasan tentang hakikat, keberadaan, perspektif kumulatif, dan bagaimana manusia menyikapi umbra personal yang tidak dapat lepas dari penumbra sosial. Lalu secara terarah dan diperhitungkan berlanjut ke cabang satunya yaitu wajah. Yang walaupun satu strata dengan cabang yang pertama namun adalah merupakan sebuah bagian yang sulit jika diberdirikan sendiri tanpa bayangan manusia. Wajah yang secara keseluruhan adalah representasi hal yang ada di manusia. Yah, ditambah sedikit basa-basi seputar maknanya. Dan garis besar yang ketiga adalah korelasi antara keduanya. Bagaimana keduanya saling berkaitan dan memberikan pengaruh dengan porsinya masing-masing. Namun mengingat agak sulitnya pikiran saya diajak fokus ke satu titik,, liat saja nanti seperti apa hasil akhirnya.
Umm... Mendadak jadi malas berbasa-basi mengenai latar belakang masalah. Intinya langsung aja ya...Nanti juga palingan jadi perluasan kata secara sentrifugal dari satu titik ke mana-mana.
Well,,
Mengapa saya tiba-tiba memilih untuk menulis di tengah-tengah ujian dan memilih topik ini?
Ntah kenapa 2 kata tadi menyelinap masuk ke kepala. Sebuah pemahaman akan manusia dan wajah. Bagaimana keberadaan seorang manusia selalu dikaitkan dengan wajah seperti apa yang ia pilih untuk ditampilkan ke hadapan dunia. Pada awalnya mungkin memang bentukan wajah merupakan sesuatu yang murni berasal dari dirinya. Yang merupakan hasil dari apa yang memang murni dimiliki oleh diri seorang manusia. Dan wajah benar-benar menjadi cermin yang merefleksikan keadaan sebenarnya. Selayaknya fungsi cermin kebanyakan : hanya menampilkan. Tidak mengurangi, tidak menambahi, tidak merekayasa.
Namun ntah knp ada sesuatu dalam pemahaman saya yang sedikit membiaskan penggunaan kata wajah dan topeng. Mungkin disebabkan tampilan yang dapat disetel seenaknya. Mungkin juga karena kontaminan luar yang terlalu memberikan pengaruh kepadanya. Sehingga apa yang ditampilkan lebih merupakan sebuah "pesanan" masyarakat kebanyakan. Bukan apa yang benar-benar menjadi wajah sebenarnya. Wajah asli yang sebenarnya jauh lebih bersinar tanpa terbungkus oleh polutan.
--to be continued...Ngantuk-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar