Minggu, 13 Februari 2011

masi seputar egosentris

Terkadang saya lupa,,betapa indahnya dunia...betapa agungnya kehidupan...betapa seharusnya saya bersyukur atas tiap hal sederhana yang acapkali tak terdeteksi ke"ada"annya cuma karena salah pakai kacamata. Otak terlalu dipenuhi kata-kata seharusnya, seandainya, andai saja, dan kata-kata sejenisnya. Dan saya terlalu sok sibuk untuk sekadar pindah posisi mencari perspektif yang lebih baik dari sekadar berasumsi. Akibatnya, saya telan bulat-bulat itu asumsi dan pada waktunya saya benar-benar memberikan stigma negatif pada banyak hal di sekitar saya. Sebuah kebodohan menyerupai LingkaRaN sEtaN yang terus dan terus saja kembali berputar mengulang alur yang sama. Sama bodohnya, sama capeknya.

Sebenarnya apa yang saya cari? Sebuah identitas?Pengakuan?Sorotan mata?Tepuk tangan panjang?Atau real kebahagiaan? Karena sepertinya saya mulai menyadari ada hal yang ga sinkron mengenai apa yang saya cari dan apa yang sedang saya coba usahakan. Stuck di sebuah titik. Terpaku begitu lama di dasarnya. Lantas dengan tanpa dosanya menyerahkan mahkota kepemimpinan diri pada asumsi dan membiarkan aku dikendalikan seenaknya olehnya.

Sudah terlalu lama saya tertegun. Sepertinya sudah saatnya saya benar-benar bangun. Kembali menjadi seorang pemula, yang baru saja belajar membuka mata sedikit lebih lebar dari sebelumnya. Belajar menerima setiap kemungkinan yang masuk nalar. Belajar menghargai setiap kejadian. Belajar bersyukur. Belajar percaya.... =)


Hahaa...
"Dan dunia hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita..."
Lupa itu kata-kata dari mana. Suka aja. Seakan cuma aku yang terlalu hiperboL mengekspresikan rasa. Karena sebenarnya semua itu jauh lebih kecil dan ringan dari sebutir debu. Begitu sadar akan hal itu aku kembali teringat bahwa semua penat yang menempel hanyalah sebuah keadaan yang terlalu dibumbui persepsi. Dan tiba-tiba saja aku merasakan sebuah kekuatan yang muncul ntah dari mana. Sebuah optimisme yang sebenarnya ga punya dasar dan alasan.
Hahaa...
Ada beberapa hal yang sama sekali tidak memiliki alasan untuk ada. Dan yang diperlukan juga bukan alasannya. Cuma-perlu-untuk-ada. Itu saja.

<14Feb2011/01.00>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar