Sebuah stagnasi yang menjelma pisau yang menghujam lagi dan lagi ketika saya sadar berpuluh-puluh manusia melewati saya yang dengan santainya justru menjawab, "monggo..." sambil tersenyum masih dengan tingkat kesantaian yang ga kira-kira.
Namun haruskah semua kegalauan dan kecemasan direduksi dengan menghadirkan sebuah sosok manusia lain? Kalau hanya kegelapan yang ditemui di kepala dan di hati. Apa memang "penghadiran" itu benar-benar sesuatu yang dibutuhkan? Ato saya hanya mencari-cari alasan.
Seringkali saya merasa begitu negatif dengan diri sendiri sewaktu iseng "study banding" ke sekitar dan mendapati orang-orang telah "terlihat" beberapa langkah di depan. Dan karena saya ga punya semangat dan niat untuk mengejar, saya hanya memandang, berpikir, terdiam, dan kembali mengucapkan selamat datang pada kelam. haha,,benar-benar lingkaran setan. Sampai soak negatifnya memutar film usang yang tak ada habisnya diputar tayang. ulang. ulang.
Dan saya rasa saya hanya perlu selembar kertas kosong dan sebuah pulpen, atau kalo di jaman sekarang cukup laptop yang ada program word. Biar mata puas memandang putih kertas beberapa waktu lama, sampai pada akhirnya otak nyerah juga. Membungkus seluruh pekat dan penat dalam pagar kata dan menyimpannya di tempat ini. Karena diuapkan pun percuma, memungkinkan kondisi mengkondensasikannya lagi. Lebih baik ditimbun di sini. Sebuah kuburan memori yang dapat dikunjungi sewaktu-waktu bila butuh.
<30Mei2011/22:03>
halooooo :)
BalasHapusketika kumat , jangan lupa minum obat. hehehe
baru liat fer... :D
BalasHapushehe...ini blog TPA fer...tiati nyasar wkt mw pulang ya.. ;)