Proses yang terjadi bukanlah
suatu proses satu linear perjalanan yang cepat atau lambat akan berujung pada
hasil yang dapat dengan mudah ditebak. Tidak. Dan memang sulit sekali menolak
kecenderungan untuk senantiasa mengikuti segala percikan baik besar maupun skala mikon yang menggoda untuk dijelajahi satu per satu dalam kehidupan. Bagaimana pun risiko yang ada sepaket bersamanya, segala kemungkinan yang sebenarnya telah dapat sebelumnya terprediksikan, maupun 'tantangan' nyata yang jelas-jelas terlihat begitu mega kasat mata. Pertanyaannya, jika likuan di langkah berikutnya terlihat sukar dilalui, mengapa kita tidak memilih jalan memutar saja?
Beberapa orang memerlukan sejumlah data dan fakta yang akurat, mengumpulkan berbagai referensi, serta membuat analisa panjang lebar dan ditutup dengan kesimpulan berakar untuk dapat menjawab satu pertanyaan sederhana tentang di mana seharusnya kita meletakkan langkah kaki berikutnya. Beberapa orang berjalan santai mengikuti arah angin, walau sebenarnya yang dilakukannya hanya berputar-putar di situ-situ saja. Sebagian membatu sampai kering menunggu datangnya ilham ke mana seharusnya ia bergerak. Sementara waktu tetap statis gerak lurus beraturan mengganti cuaca, membolak-balikkan kalender, menumbuhkan rambut serta uban kita.
Sayang, ada banyak hal yang tidak belum kita pahami di kemewahan dunia ini. Beberapa hal yang membiaskan kebimbangan penuh pertimbangan dengan kemunafikan. Kejujuran bersegala dengan kenaifan. Keberanian bersuara, berperasa, bertindak dapat menjadi upaya penghimpunan energi dan sumber daya yang sia-sia lagi buang-buang waktu untuk satu sisi. Karena menurut ilmu hitung untung-rugi, daya yang dikeluarkan jauh lebih besar dari satu hal yang diperjuangkan mati-matian. Belum matematika probabilitas ketercapaian dan peluang kekalahan. Sisi lain yang tidak seragam memandang hal ini sebagai penghormatan bagi kehidupan. Bagaimana sudah seharusnyalah kita memperjuangkan apa yang kita (personal) anggap benar. Sehingga kehidupan yang telah dengan ajaibnya dikaruniakan tidak hanya sekadar menjadi jalur numpang lewat tanpa arti, tanpa apresiasi karena dijalani hanya dengan niat sebentar lagi juga mati. Ada orang-orang yang dilahirkan juga ditempa dengan pande keberanian. Beberapa hanya mampu tepuk tangan menyemangati, sayang... Sementara lainnya mencibir meremehkan.
Hitam, putih, abu-abu. Hitam bisa jadi putih dengan kesepakatan. Putih pun bisa sesekali menyelinap jadi hitam demi keamanan. Sementara abu-abu secara eksklusif keluar dari kancah. Sama sekali tidak basah. Tidak kalah. Juga tidak pernah menang tentunya.
Sementara kita berteori tanpa alur sentrifugal, waktu dengan yakin dan pastinya tetap jalan. Aku masih terpaku buang-buang waktu. Ntah dirimu.
<16Juli2012/01:02>
bahasanya berat euy :D
BalasHapus