Kamis, 06 September 2012

usai paket di tangan

Baru saja mendapat kiriman buku kumpulan puisi karya guru saya, GPA. Sebuah kiriman yang sejenak membuat saya terhenyak. Sekian lama tak bertegur sapa dengan aksara, dan masih ada orang, terlebih panutan saya sendiri, yang peduli. Jelas terharu, bercampur malu, salut, dan juga kalut. Haha, begitu dalamnya makna sebuah paket yang tiba tepat ketika kondisi badan sebenarnya sedang tidak dalam kondisi optimal. Sedemikian dalam sehingga saya merasa bersalah jika tidak -paling tidak- menulis sesuatu, apapun itu, saat ini juga. Di tengah pengerjaan hal yang lain juga sebenarnya.



Aksara (pernah) menjadi bagian tak terpisahkan dari diri dan kehidupan saya sehari-hari. Terutama di hari-hari yang saya rasa sukar untuk dideskripsikan secara verbal spesifik pada sebuah (atau seorang) objek. Begitu wah dan mejiknya kekuatan kata-kata yang demikian memesona Santi kecil untuk tak habis-habis membuang tinta untuk memetakan sampai ke peristiwa paling kecil yang lewat, dan tertangkap. Aksara seakan menawarkan sebuah dunia pengalihan. Dunia yang penuh pelipuran, penuh distorsi, dunia yang senantiasa membuka kedua tangan dan tidak putus-putus merengkuh saya dalam pelukan. Penerimaan tanpa syarat, tanpa ketentuan.

Pada titik ini saya kembali teringat, betapa 26 abjad dapat merupa ratusan, ribuan kata, menjelma nyawa-nyawa lama yang terus saja reinkarnasi menjadi lakon baru dengan naskah baru pada panggung lama. Betapa saya jatuh cinta pada tiap jiwa begitu saja. Betapa nyawa-nyawa baru yang saya lahirkan lahir begitu saja tanpa aturan penciptaan. Tiap kelahiran memiliki arti. Karena keberadaannya hingga kemudian menjelma nyata adalah pengejawantahan segala kesan di pikiran, di hati, di tiap likuan yang memaksa untuk mau ga mau jalan terus ke depan. Saya kembali tersadar, betapa berperannya aksara dalam membuat saya tetap waras.

Well,, mulai mengantuk. Mungkin post ini tidak akan berpanjang ria mengobesitaskan kata. Pada intinya saya ingin mengucapkan terima kasih pada hal-hal yang sebenarnya saya juga belum terlalu mengerti itu apa. Hal-hal yang telah menghidupkan (kembali) sesuatu dalam diri saya. Hal-hal yang -mungkin tanpa ia sadari pula- mengingatkan, bahwa ah sudah jauh juga saya berjalan. Beberapa didapatkan, beberapa tertinggalkan, sementara jejak-jejak bercerita panjang-lebar. Saatnya sejenak duduk manis mendengarkan. Sambil pelan-pelan mengatupkan mata berupaya meminjam panggung mimpi untuk mementaskannya.


<7september2012_00:03>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar