Rabu, 09 April 2014

untuk sebuah nama

Kangen. Terlalu vulgar kata ini aku umbar-umbar. Namun biar. Metafor di sekitar tidak cukup sakti untuk meredam gemuruh dan memberikan substitusi simbol lain yang layak dan sepadan.  Kangen. Well dua kali pengucapan dalam satu paragraf itu sedikit berlebihan. Segenap perasaan bercampur aduk memutar-balik dunia nyata, kenangan, dan khayalan. Ijinkan saya mengais percikan yang tertinggal. Banyak potongan yang ingin saya simpan….

Betapa mudahnya hal-hal sederhana menjadi sangat dirindukan ketika ia tak ada. Bahkan pada ingatan yang tidak terlalu tajam ini saja cetakan-cetakan langkah dan cekikikan tawa biasa dapat begitu nyata dan jelas plot kejadiannya. Well, malam ini sejenak saya persilakan otak istirahat dini. Biar kali ini hati leluasa menari. Gemuruh getar punya sifat anomali. Bukan masokis jika memang diam-diam perasaan ini saya rindukan. Juga nikmati.

Yah setiap likuan punya hak untuk menjadi abadi lewat kata, walau mungkin keberadaannya hanya sementara. Di sini saya hanya mencoba bersaksi, perasaan ini pernah ada. Nyata. Di sini. Untuk satu nama yang saat ini jauh di sana. Merasakan yang sama. Dengan caranya.

Bisakah perasaan yang sama berinterkoneksi jika cara merasakan dan menggelorakannya berbeda? Kali ini saya mendengus. Beberapa kali menghela napas ntah untuk apa. Setelah beberapa lama baru saya sadar, ya sadar, ada kesenjangan. Interfasa yang cukup besar dalam mengapresiasi rasa. Masalah? Ntah. Cuma pintu ego yang terbuka. Dan gaung sunyi setelahnya. Angkat tangan. Saya tidak bisa mendeskripsikan dengan jelas apa yang saya rasa.

Dan lalu…

Tawa lebar itu lagi. Menguapkan tanya mengendapkan kelam yang tersisa. Meninggalkan kerinduan menderu-deru dalam dada.


9 April 2014 23.15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar