Kangen. Terlalu vulgar kata ini
aku umbar-umbar. Namun biar. Metafor di sekitar tidak cukup sakti untuk meredam
gemuruh dan memberikan substitusi simbol lain yang layak dan sepadan. Kangen. Well dua kali pengucapan dalam satu paragraf
itu sedikit berlebihan. Segenap perasaan bercampur aduk memutar-balik dunia
nyata, kenangan, dan khayalan. Ijinkan saya mengais percikan yang tertinggal.
Banyak potongan yang ingin saya simpan….
Betapa mudahnya hal-hal sederhana
menjadi sangat dirindukan ketika ia tak ada. Bahkan pada ingatan yang tidak
terlalu tajam ini saja cetakan-cetakan langkah dan cekikikan tawa biasa dapat
begitu nyata dan jelas plot kejadiannya. Well, malam ini sejenak saya
persilakan otak istirahat dini. Biar kali ini hati leluasa menari. Gemuruh
getar punya sifat anomali. Bukan masokis jika memang diam-diam perasaan ini
saya rindukan. Juga nikmati.
Yah setiap likuan punya hak untuk
menjadi abadi lewat kata, walau mungkin keberadaannya hanya sementara. Di sini
saya hanya mencoba bersaksi, perasaan ini pernah ada. Nyata. Di sini. Untuk
satu nama yang saat ini jauh di sana. Merasakan yang sama. Dengan caranya.
Bisakah perasaan yang sama
berinterkoneksi jika cara merasakan dan menggelorakannya berbeda? Kali ini saya
mendengus. Beberapa kali menghela napas ntah untuk apa. Setelah beberapa lama
baru saya sadar, ya sadar, ada kesenjangan. Interfasa yang cukup besar dalam
mengapresiasi rasa. Masalah? Ntah. Cuma pintu ego yang terbuka. Dan gaung sunyi
setelahnya. Angkat tangan. Saya tidak bisa mendeskripsikan dengan jelas apa
yang saya rasa.
Dan lalu…
Tawa lebar itu lagi. Menguapkan tanya
mengendapkan kelam yang tersisa. Meninggalkan kerinduan menderu-deru dalam
dada.
9 April 2014 23.15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar