Berdoa dapat menjadi suatu
aktivitas rutin yang normatif manakala hal yang dilakukan hanyalah mengucapkan
mantra. Dan ya Tuhan tidak butuh doa kita. Kitalah yang butuh berbicara
padaNya. Terutama pada saat-saat yang kita anggap kita perlu berserah dan
berpasrah. Wew, pegangan paling kokoh dan kuat sejauh ini yang aku kenal ya
Dia. Dia yang selalu ada bagaimana pun dunia atau kita sendiri memandang diri
kita dengan pandangan sebelah mata, atau saat-saat kita butuh tempat untuk
sekadar rehat; jeda.
Mungkin yang menyebabkan hampir semua
agama menyarankan (bahkan mewajibkan) setiap pemeluknya untuk beribadah aka
berdoa setiap hari adalah untuk membangun konsistensi percakapan antara kita
dengan Tuhan (atau padanannya). Sebuah kedekatan, keakraban, dan kebutuhan yang
–tanpa sadar- dibangun hari per hari sepanjang waktu selama kita hidup. Entah
akan berujung positif atau negatif, kita butuh itu. Perasaan yang bukan hanya
sekadar mantra atau bentuk Tuhan itu sendiri. Perasaan merasa kecil namun
ternaungi, lemah namun terkuatkan, dan juga kenyamanan merasa didengarkan.
Mengucapkan mantra tidak
sepatutnya disama-artikan dengan berdoa. Sebagaimana ada beda antara rutinitas
dengan konsistensi, kewajiban dengan kebutuhan. Tidak mudah menggambarkan
perasaan keterikatan tanpa paksaan. Kita justru merasa butuh ketika tidak ada
suatu hal pun yang memberikan tekanan keharusan. Mungkin saja hanya kebetulan
objek yang kita tuju adalah satu hal yang besar, Tuhan seru sekalian alam.
Di sini saya menulis dengan jari
yang sudah mulai karatan hanya sebagai pembenaran. Di mana banyak hal jadi
alibi yang bisa dipetik sesuka hati mengenai betapa jarang saya sungguhan
berbicara alih-alih mengucapkan mantra karena merasa bertanggung jawab dan
harus melakukan aktivitas berdoa. Betapa saya merasa yang saya lakukan hanya
buang-buang waktu percuma ketika mantra hanya berakhir sebagai deklamasi kata-kata
indah tanpa makna. Dan betapa saya merasa kosong karena quality time bersamaNya
hamper nol besar, dan saya baru sadar hal ini memengaruhi saya dan kualitas
hidup saya. Beberapa keseimbangan perlu kita jaga. Beberapa aktivitas perlu
pembiasaan untuk dijadikan kebiasaan. Salah duanya adalah aktivitas ini.
Pelurusan kesadaran lewat tulisan.
-Ni Wayan Santi Dewi-
<17 Juni 2014/22:11>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar