Jumat, 22 Januari 2021

Lampau

Dingin. Ruang menjadi asing. 
Kerongkongan kering. 
Serak. Lirih. Tak mampu berteriak. 
Maaf tak sanggup terucap. 
Ada jeda yang terlampau panjang. 
Jarak yang telah dengan sengaja dibentang.
Ditinggal pergi tanpa menoleh ke belakang. 
Layakkah aku pulang? 

Selasa, 26 September 2017

Tujuan

Setelah lama absen dan sengaja alpa, aku tengok ruang ini untuk mencari secercah inspirasi. Di tengah kekacauan di kepala yang sedang ku upayakan tata, kebelumjelasan arahan ke depan, serta ketidakberanian melangkah di tahap sekarang, aku sedang beberes lalu mengiba jeda. Lelah, karena belum terbiasa.

Hai Semesta! 
Tanpa perlu banyak aksara, kamu menjawab doa yang kuucapkan tanpa berpikir panjang. Ya benar Tuhan maha tau, tapi Ia menunggu. Setelah sekian tahun harapan tersebut terkubur, sekarang ia hadirkan dalam diam. Dan aku terkejut. Hal ini bukan hal yang mudah dijalani. Dulu aku bukan hanya menantang diri sendiri. Aku menantang semesta yang berkonspirasi.

Setelah lama tidur panjang, ia dipaksa bangun. Tidak mudah membuatnya terjaga dengan energi yang prima. Berat dan melelahkan, tapi layak diupayakan. Mau ngga mau, bisa ngga bisa, sanggup ngga sanggup. Bangun. Menata ulang tujuan. Mengerahkan segala daya ke arahnya. Bukan hanya demi ketercapaian tujuan tersebut, tapi juga demi perasaan sederhana merasa berarti. Menghargai hidup dengan hidup sebenar-benarnya hidup. Klise dan terdengar tidak istimewa. Sampai kita dihadapkan pada situasi yang hanya kita yang tau dan pahami. Perasaan yang hanya kita yang mengerti.

Mari kembali memulai langkah. Lebih tegas dibanding sebelumnya.
You don't have to be strong. All you need is to be brave and do it anyway.
Sebuah pencapaian pribadi tidak membutuhkan sorak sorai orang banyak

Jumat, 14 Agustus 2015

Welcome. Again.

Komando yang saya mengerti adalah saya harus menulis saat ini. Mungkin untuk menyimpan perasaan sunyi. Mungkin untuk membuang benci. Mungkin untuk melupakan jeda waktu. Mungkin untuk menepis rindu. Aku tak tau.

Gila ya lama sekali memendam rindu pada aksara. Sekitarku buku berserakan separuh terbaca separuh berharap dibaca separuh diletakkan sekenanya, tapi aku merasa demikian jauh dari kata. Agaknya ini semacam danau yang mengalir. Jika diisi tanpa dialirkan atau dituang ia akan menjadi payau. Pekat hitam. Yuck.

Rindu tapi tak melangkah ke manamana. Terpekur dalam perasaan rindu, lalu lupa, ingat rindu lagi, lupa lagi, rindu lagi. Sampai kiamat juga akan tetap ada yang ngganjel. Yah semoga saja aku nanti ngga nyesel. Lingkaran sempurna. Bukan spiral ke atas, apalagi ular tangga.

Pada saatnya nanti kita akan lupa detik demi detik yang pernah kita appreciate keberadaannya. Atau beberapa pengalaman singgah yang membuat jengah dan kita harapkan diri kita cepatcepat lupa. Memori cuk. Rata. Sama. Keduanya menjadikan kita diri kita sekarang. Dan kita adalah tulang punggung diri kita di hari mendatang.

Akankah kita menyalahkan? Atau berterima kasih? pada diri kita saat menengok ke belakang.

Aku cuma berharap kamu di masa depan sehat bahagia dan jauh lebih baik dari sekarang, San. Ku bantu sebisaku. Sekarang, tidur.

Rabu, 20 Agustus 2014

Long...Relationship

Apa arti pasangan buat kamu?

Itu jadi pertanyaan random di kepala. Tiba-tiba. Dan menjelma uring-uringan saat sang pacar sedang ngantuk dan tidak bisa diajak diskusi panjang. 

Bagiku, pasangan adalah seseorang yang bisa menjadikan kehadiran satu sama lain berarti, sambil senantiasa memperbaiki diri. Yah dasar dari segala dasar ya bisa nyaman menunjukkan diri dan bisa menerima diri kita apa adanya. Tapi sampai di situ saja tidak cukup. Menjadi kita apa adanya tidak akan membawa kita ke mana-mana. Dan sinergisitas 2 manusia ini akan menghasilkan tawa, waktu-waktu berharga, kenangan indah, namun tidak akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik dari saat kita tidak bersama siapa-siapa.

Pada saat kita memutuskan untuk bersama seseorang, mengikatkan diri menjadi bagian dari manusia lain, ada pengharapan berlebih dari sekadar romantika a la kadarnya. Tujuan utama membagi waktu, rasa, segenap emosi, dan terlebih ego pada makhluk lain semestinya jauh lebih mulia ketimbang fantasi-fantasi ria di benak kita dan berbunga-bunganya permainan endorfin dan kawan-kawannya. Tujuan yang membuat kita sadar arti penting sebuah hubungan. Sehingga dengan kesadaran penuh menjaga sebuah hubungan yang diyakini mampu berjalan dengan pasti ke arah yang benar.

Beberapa toleransi mutlak dibutuhkan dalam proses. Dua kepala jelas memiliki perbedaan cara pandang dan nilai-nilai yang dipegang. Bukannya berjudul gampang terombang-ambing. Bahkan di sekolah dulu kita kenal istilah adaptasi dan seleksi alam. Jika yang dituju adalah sesuatu yang lebih baik, well, ada hal-hal yang perlu diupayakan. Kita tidak akan pernah kemana-mana kalau tidak memulai langkah. 

"Aku cuma berharap pasangan aku ada untuk aku. Bisa selalu ada dan mau mendampingi aku."

Pendek dan sederhana saja jawaban pacar. Setengah ngantuk. Mungkin juga sedikit takut aku bakal ngambek atau ngamuk. Jadi dijawabnya juga ntah dengan kesadaran penuh atau asal jawab.

Ada ujung yang masih menggantung di depan. Perjalanan masih panjang, sayang. Jangan kendorkan genggaman.

Selasa, 17 Juni 2014

doa

Berdoa dapat menjadi suatu aktivitas rutin yang normatif manakala hal yang dilakukan hanyalah mengucapkan mantra. Dan ya Tuhan tidak butuh doa kita. Kitalah yang butuh berbicara padaNya. Terutama pada saat-saat yang kita anggap kita perlu berserah dan berpasrah. Wew, pegangan paling kokoh dan kuat sejauh ini yang aku kenal ya Dia. Dia yang selalu ada bagaimana pun dunia atau kita sendiri memandang diri kita dengan pandangan sebelah mata, atau saat-saat kita butuh tempat untuk sekadar rehat; jeda.

Mungkin yang menyebabkan hampir semua agama menyarankan (bahkan mewajibkan) setiap pemeluknya untuk beribadah aka berdoa setiap hari adalah untuk membangun konsistensi percakapan antara kita dengan Tuhan (atau padanannya). Sebuah kedekatan, keakraban, dan kebutuhan yang –tanpa sadar- dibangun hari per hari sepanjang waktu selama kita hidup. Entah akan berujung positif atau negatif, kita butuh itu. Perasaan yang bukan hanya sekadar mantra atau bentuk Tuhan itu sendiri. Perasaan merasa kecil namun ternaungi, lemah namun terkuatkan, dan juga kenyamanan merasa didengarkan.

Mengucapkan mantra tidak sepatutnya disama-artikan dengan berdoa. Sebagaimana ada beda antara rutinitas dengan konsistensi, kewajiban dengan kebutuhan. Tidak mudah menggambarkan perasaan keterikatan tanpa paksaan. Kita justru merasa butuh ketika tidak ada suatu hal pun yang memberikan tekanan keharusan. Mungkin saja hanya kebetulan objek yang kita tuju adalah satu hal yang besar, Tuhan seru sekalian alam.


Di sini saya menulis dengan jari yang sudah mulai karatan hanya sebagai pembenaran. Di mana banyak hal jadi alibi yang bisa dipetik sesuka hati mengenai betapa jarang saya sungguhan berbicara alih-alih mengucapkan mantra karena merasa bertanggung jawab dan harus melakukan aktivitas berdoa. Betapa saya merasa yang saya lakukan hanya buang-buang waktu percuma ketika mantra hanya berakhir sebagai deklamasi kata-kata indah tanpa makna. Dan betapa saya merasa kosong karena quality time bersamaNya hamper nol besar, dan saya baru sadar hal ini memengaruhi saya dan kualitas hidup saya. Beberapa keseimbangan perlu kita jaga. Beberapa aktivitas perlu pembiasaan untuk dijadikan kebiasaan. Salah duanya adalah aktivitas ini. Pelurusan kesadaran lewat tulisan.


-Ni Wayan Santi Dewi-
<17 Juni 2014/22:11>

Rabu, 09 April 2014

untuk sebuah nama

Kangen. Terlalu vulgar kata ini aku umbar-umbar. Namun biar. Metafor di sekitar tidak cukup sakti untuk meredam gemuruh dan memberikan substitusi simbol lain yang layak dan sepadan.  Kangen. Well dua kali pengucapan dalam satu paragraf itu sedikit berlebihan. Segenap perasaan bercampur aduk memutar-balik dunia nyata, kenangan, dan khayalan. Ijinkan saya mengais percikan yang tertinggal. Banyak potongan yang ingin saya simpan….

Betapa mudahnya hal-hal sederhana menjadi sangat dirindukan ketika ia tak ada. Bahkan pada ingatan yang tidak terlalu tajam ini saja cetakan-cetakan langkah dan cekikikan tawa biasa dapat begitu nyata dan jelas plot kejadiannya. Well, malam ini sejenak saya persilakan otak istirahat dini. Biar kali ini hati leluasa menari. Gemuruh getar punya sifat anomali. Bukan masokis jika memang diam-diam perasaan ini saya rindukan. Juga nikmati.

Yah setiap likuan punya hak untuk menjadi abadi lewat kata, walau mungkin keberadaannya hanya sementara. Di sini saya hanya mencoba bersaksi, perasaan ini pernah ada. Nyata. Di sini. Untuk satu nama yang saat ini jauh di sana. Merasakan yang sama. Dengan caranya.

Bisakah perasaan yang sama berinterkoneksi jika cara merasakan dan menggelorakannya berbeda? Kali ini saya mendengus. Beberapa kali menghela napas ntah untuk apa. Setelah beberapa lama baru saya sadar, ya sadar, ada kesenjangan. Interfasa yang cukup besar dalam mengapresiasi rasa. Masalah? Ntah. Cuma pintu ego yang terbuka. Dan gaung sunyi setelahnya. Angkat tangan. Saya tidak bisa mendeskripsikan dengan jelas apa yang saya rasa.

Dan lalu…

Tawa lebar itu lagi. Menguapkan tanya mengendapkan kelam yang tersisa. Meninggalkan kerinduan menderu-deru dalam dada.


9 April 2014 23.15

Selasa, 22 Oktober 2013

Surat untuk Kawan

Saya harap kamu berada di sini bersama saya, kawan. Begitu banyak hal untuk diceritakan. Untuk sedikit dituangkan dari pejalnya pikiran. Sulit untuk bercerita di tengah senyap dalam dada dan hiruk pikuk sekitar saya. Sulit mencoba untuk menggapai jarak lewat jejaring dan saluransaluran yang sebenarnya tersedia. Katakata saya akan mengering dengan segera. Sebagaimana setiap percik rasa; emosi akan terlupakan begitu saja. Tapi saya tetap ingin membagi persinggahan di tiap likuan ini. Egoisnya, saya cuma sedang tidak ingin merasa sendiri.

Masingmasing dari kita punya kehidupan. Punya kesibukan dan prioritas. Punya halhal yang kita pribadi rasa layak untuk diperjuangkan. Bukan individualistik juga jika kita merasa semua itu penting buat diri dan hidup kita. Ya, jalan yang kita tempuh adalah pililhan kita. Juga semua yang kita hadapi saat ini, cumalah konsekuensi dari keputusan sebelumnya. Saya tidak banyak memiliki stok doa dan harapan, kawan. Hanyalah beberapa jeda yang saya pinta tanpa kata. Karena saya tidak memiliki kuasa untuk secara lugas meminta...

Beberapa ceceran memori masih lekat saya simpan. Juga gelak yang menolak untuk terlupakan. Tentu saja waktu tidak akan bisa terulang. Saya tidak senaif itu komatkamit berdoa segera tercipta mesin waktu agar dapat kembali ke masamasa di mana setiap detik hanyalah tawa sembari mengumpat sekenanya bersamasama. Saya tidak sama sekali berharap detik yang lewat akan terulang. Tidak. Saya bersyukur memiliki kenangan yang selamanya dapat kembali saya putar. dalam ingatan.

Pun saya tidak berharap kamu menyikapi kita dengan cara yang sama saya memandang. Kamu teruslah berjalan. Cobalah berlari. Saya senang melihat kamu terbang. Saya tidak sedang berusaha menarik kamu kembali. Karena sekali lagi, waktu yang sudah lewat itu menjadi sangat berarti karena ia hanya terjadi sekali. Tidak akan pernah sama persis kembali ke satu titik. Saya tidak sedang mengiba meminta kamu berpaling. Teruslah jalan lalu terbang.

Kawan, pada suatu ketika kita akan bertemu di satu titik. Belas kasihan semesta, atau kompensasi atas pinta saya. Tapi saya juga ikut bantu dengan doa, doa semoga kamu juga mengharapkan keberadaannya.
Gaung tawa tulus mampu merangkul sepi. Menjadikannya kekasih. Membuatnya tidak lagi hadir sebegitu sunyi.


22 Oktober 2013
23:45

Minggu, 21 April 2013

sepertinya malam akan segera tiba

Beberapa potongan malam menjadi asing. Tanpa hujan, tanpa potongan gerimis. Tidak. Tidak ada yang sadis maupun tragis di sini. Keadaan hanya berputar untuk sementara. Untuk menyeimbangkan sisi satunya. Namun bukannya tan melankolia. Kesan serta nuansa yang datang sepaket bersama situasi tetaplah ada. Nyata bagi ini sudut maya.

Langkah-langkah gusar nan bimbang masih saja berputar-putar membuang waktu dengan kasar. Karena sama sekali tidak bergerak dapat perlahan membunuh, jalan yang tidak lebih bijak akhirnya diputuskan untuk ditempuh. 

Perlahan, mari kita berjalan. Berjalan perlahan, sayang. Menjauhi kerumunan. Menjauhi haluan awal. Sampai di sini saja. Bus saya akan berangkat dengan segera. Terima kasih telah menjejak itu setapak bersama saya. Langit cerah. Tepat seperti yang kau pinta.


<21April2013/22:43>

Kamis, 18 April 2013

Setapak Ini

Selogis-logisnya pemikiran, ada saatnya perasaan yang mengambil alih diri serta kesadaran. Sebenarnya ini suatu hal yang wajar kok. Jika saja saya tidak terlalu senewen karena mengalaminya. Karena saya benci berada dalam suatu kondisi yang mengharuskan saya merasa sangat sangat bersalah. Ntah dosa ntah apa itu masuk neraka. Pengetahuan saya masih cetek soal dunia sana. Yang saya pahami dengan benar, ada sesuatu dalam diri saya yang saya langgar. Sehingga saya merasa demikian sakit ketika mengingatnya. Akan tetapi perlu digarisbawahi, merasa bersalah dengan menyesal itu tidak plek-plek sama. Saya belum dapat memutuskan apakah saya merasa menyesal atau tidak.

Damn! Sakit sekali perasaan ini ternyata. Ngilu terasa ketika tanpa sengaja terkilas kembali gambaran itu peristiwa. Dan sulit menggambarkannya secara mendetail, sebenarnya apa yang saya pribadi rasa? Nilai apa yang saya langgar dalam diri saya? Sehingga saya sedemikian ini merasa gamang melangkah.

Ada cetakan luka yang sebenarnya bukan milik saya. Darah yang bukanlah darah saya. Tapi saya sadar, pisau itu ada di tangan kanan saya. Dan darah segar itu menempel di tangan saya. Cuk! Salah didikan sepertinya ini. Salah pilih nilai untuk dijadikan pondasi. Salah pilih guru untuk digugu. Salah baca buku!

Dalam bentukan diri yang sudah sampai sejauh ini prosesnya, saya tidak bisa serta merta bilang saya tidak suka diri saya begini, saya ingin diri saya begitu. haha, mungkin motivator-motivator itu bisa memberikan kalimat-kalimat pembangkit semangat seraya berkata BERUBAH segampang Kotaro Minami berubah jadi ksatria baja hitam. Dan saya pun mengangguk-angguk nurut sampai sesi indoktrinasi basi itu berakhir. Lalu ngah ngoh beberapa saat, dan kembali ke alur saya sebelumnya. haha. Satu yang diam tersenyum menunggu mungkin cuma si waktu. Mengangguk memberi kesempatan dan perijinan untuk merasakan ini rasa se-pol-polnya tanpa kepedulian untuk mereduksi barang sedikit. Dongkol tapi apa mau kata? Mau dirasakan dengan mengeluh, mencaci, memaki, atau legowo menerima?

Berdasar pengalaman, sampai perban korban dilepas, baru saya merasa tuntas. Tapi tiap puzzle itu unik. Dan saya bukan Jayabaya. Juga ini bukan karya ilmiah yang harus ditutup dengan konklusi solutif. Haha sabar San. Bahkan pada saat seperti ini bagian kiri ini kepala juga tertawa. Hasem.


<19 April 2013/02:39>

Minggu, 10 Februari 2013

say a

Apa yang kiranya dilakukan seseorang ketika pikirannya terlalu aktif bahkan bergerak lebih cepat dibandingkan otot-otot motorik? Diperlukan sebuah ketenangan untuk mampu menyikapi keadaan dengan kepala dingin dan tetap tersenyum optimis. Bukan untuk ditunjukkan ke hadapan siapa-siapa. Bukan juga jadi sihir yang mempu serta merta membereskan hal-hal yang memang harus diselesaikan. Tapi untuk tetap waras sehingga pada akhirnya seluruhnya mampu terengkuh juga tersentuh, sesuai porsinya. Saya jadi teringat kata-kata Pak Han yang diperankan oleh Jackie Chen dalam film Karate Kid yang saya tonton semalam. Bahwa menjadi tenang itu berbeda dengan tidak berbuat apa-apa.

Dan saya telah berjanji untuk menerima diri saya sebagaimana adanya. Senantiasa berupaya bergerak ke depan, merevisi yang dapat diubah, daan menyiasati bagian yang memang adalah diri saya sebenar-benarnya namun sulit untuk diterima. :)

Siwaratri telah lewat. Akan tetapi jagra bukan hanya bertahta dalam satu malam itu saja. Saya akan jaga diri saya. Dalam kondisi sadar sesadar-sadarnya.